ILO: Jumlah Pengangguran Naik 6,25 Persen
JAKARTA]
Organisasi Perburuhan Internasional (The International Labour Organization/ILO)
mencatat kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 6,25 persen hingga
Agustus 2013.
"Menarik karena pada Maret 2013 persentase pengangguran di Indonesia 5,9 persen dan menurun menjadi 5,8 persen pada Mei. Namun angka tersebut mengalami peningkatan seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi," kata ekonom ILO Jakarta Emma Allen dalam Peluncuran Laporan Terbaru ILO terkait Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2013 di Jakarta, Selasa (17/12).
Dari 6,25 persen jumlah pengangguran tersebut, ia mengatakan 70 persen pengangguran tersebut berusia antara 15 hingga 29 tahun.
Terjadi ketimpangan pendapatan meski tingkat partisipasi angkatan kerja rumah tangga miskin menguat. Karena itu, menurut dia, sangat mendesak penyediaan pekerjaan layak dan kesetaraan pertumbuhan.
Ketenagakerjaan di bidang manufaktur yang selama ini memberi informasi penting mengenai tren perdagangan dan investasi, mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Tingkat partisipasi angkatan kerja pun, ia mengatakan juga mengalami penurunan.
"Tren-tren ini mengindikasikan munculnya masalah serius terkait ketenagakerjaan dalam perekonomian," kata Emma.
Direktur ILO Indonesia, Peter van Rooij mengatakan Indonesia mencatat kenaikan tingkat pengangguran sebagai akibat melambannya pertumbuhan ekonomi di 2013.
Peningkatan ini kontras dengan tren jangka panjang yang memperlihatkan pengurangan pengangguran.
Antara Agustus 2012 dengan Agustus 2013 pertumbuhan ketenagakerjaan jatuh hingga ke angka nol sementara pertumbuhan ekonomi berkembang sebesar lima persen. Hal ini mencerminkan kemandekan dan pertumbuhan pengangguran.
Lebih lanjut ia mengatakan upaya-upaya lanjutan diperlukan untuk memastikan kebijakan pembangunan pemerintah yang prolapangan kerja, prokaum miskin, prolingkungan, dan propertumbuhan sehingga mampu mewujudkan tujuan pertumbuhan yang menghasilkan banyak lapangan kerja.
"Artinya usaha yang dilakukan untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan harus juga dilakukan untuk mempromosikan lapangan kerja," ujar Peter.
Ant/t
"Menarik karena pada Maret 2013 persentase pengangguran di Indonesia 5,9 persen dan menurun menjadi 5,8 persen pada Mei. Namun angka tersebut mengalami peningkatan seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi," kata ekonom ILO Jakarta Emma Allen dalam Peluncuran Laporan Terbaru ILO terkait Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2013 di Jakarta, Selasa (17/12).
Dari 6,25 persen jumlah pengangguran tersebut, ia mengatakan 70 persen pengangguran tersebut berusia antara 15 hingga 29 tahun.
Terjadi ketimpangan pendapatan meski tingkat partisipasi angkatan kerja rumah tangga miskin menguat. Karena itu, menurut dia, sangat mendesak penyediaan pekerjaan layak dan kesetaraan pertumbuhan.
Ketenagakerjaan di bidang manufaktur yang selama ini memberi informasi penting mengenai tren perdagangan dan investasi, mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Tingkat partisipasi angkatan kerja pun, ia mengatakan juga mengalami penurunan.
"Tren-tren ini mengindikasikan munculnya masalah serius terkait ketenagakerjaan dalam perekonomian," kata Emma.
Direktur ILO Indonesia, Peter van Rooij mengatakan Indonesia mencatat kenaikan tingkat pengangguran sebagai akibat melambannya pertumbuhan ekonomi di 2013.
Peningkatan ini kontras dengan tren jangka panjang yang memperlihatkan pengurangan pengangguran.
Antara Agustus 2012 dengan Agustus 2013 pertumbuhan ketenagakerjaan jatuh hingga ke angka nol sementara pertumbuhan ekonomi berkembang sebesar lima persen. Hal ini mencerminkan kemandekan dan pertumbuhan pengangguran.
Lebih lanjut ia mengatakan upaya-upaya lanjutan diperlukan untuk memastikan kebijakan pembangunan pemerintah yang prolapangan kerja, prokaum miskin, prolingkungan, dan propertumbuhan sehingga mampu mewujudkan tujuan pertumbuhan yang menghasilkan banyak lapangan kerja.
"Artinya usaha yang dilakukan untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan harus juga dilakukan untuk mempromosikan lapangan kerja," ujar Peter.
Ant/t
Tidak ada komentar