SI BORU HEONG, Sejarah Simalungun yang Terlupakan
SI BORU
HEONG
Batu Menangis Putri Raja Purba
(Sejarah
Simalungun Yang Terlupakan)
Catatan : Tagor
Leo Sitohang
Banyak yang tidak mengetahui sejarah
siboru Heong, dan bahkan sejarah budaya Siboru Heong sangat mempengaruhi
kebesaran kerajaan Tuan Sinaman di masa itu, kebesaran kerajaan Raja Sinaman
ini terlupakan akibat sedikitnya literature atu tulisan yang menjelaskan asal
muasal sejarah Sinaman dan Boru Heong, hal ini dikarena Pemerintah Simalungun
kurang memperhatikan betapa berharganya budaya dan asset Simalungun , hanya sedikit saja yang mengetahui sejarah Siboru Heong dan
nyaris terlupakan.
Penulis saat mengunjungi "wujud" si Boru heong, yang di yakini menjelma menjadi Batu di daerah Sipintu Angin Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun |
Menurut Sumber penulis, Siboru Heong adalah Putri Raja Purba Sidadolog keturunan Tuan Sinaman yang sangat cantik, bak primadona dimasa itu, tak ada satupun pemuda dimasa itu yang dapat mendekati si Boru Heong, baik secara kasta, maupun dirinya yang selalu mendapat pengawalan ketat kerajaan Sinaman. Ada juga yang menyebutkan legenda sejarah Siboru Heong sudah terjadi sebelum kerajaan Tuan Sinaman.
Siboru Heong yang dilahirkan di Pematang
Sinaman saat ini disebut Huta Sinaman yang terletak di Kecamatan Dolok
Pardamean Kabupaten Simalungun, Tak banyak yang mengetahui legenda Siboru Heong
yang terletak di Parbalokan Dolog ( Bukit ) Sipigol di Kampung Sipintu Angin
Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun, dan bahkan banyak yang tidak
berani mengunjungi tempat sejarah ini, ketidak
beranian pengunjung tempat sejarah ini karena adanya berita Mistik atau kramat
yang ditinggalkan Siboru Heong ditempat itu. Sementara keindahan yang terpancar
dari batu itu sungguh mempesona dan sangat menarik perhatian, karena berbentuk
wajah seorang wanita cantik yang berambut lebat.
Legenda atau cerita sejarah Si Boru
Heong ini berawal dari niat pertunangan Putri Raja Sinaman dengan Putra Raja
Samosir. Pada masa itu Tuan Samosir sering datang ke
Simalungun mengunjungi sahabatnya Tuan Sinaman yang ada di seberang pulau di
Danau Toba dengan menaiki Solu (kapal
kayu yang di dayung manusia) tepatnya di tepi pantai Tigaras Danau Toba , setelah sampai di Pantai Simalungun Tigaras,
Tuan Samosir dan Tuan Sinaman mengadakan rapat wilayah kekuasaan Raja-raja di
Tanah Batak, untuk saling menguatkan kekuasaan merekapun mengadakan beberapa
kesepakatan dan kerjasama.
Karena semakin dekatnya, mereka bukan
lagi merasa bersahabat, tapi mereka
sudah merasa sebagai saudara dan terus mengadakan pertemuan dan saling
mengunjungi. Agar persahabatan semakin kuat ternyata secara diam-diam mereka mengadakan
pertunangan, mereka mempertunangkan Putra Tuan Samosir dengan Putri Tuan
Sinaman yaitu siboru Heong, tanpa meminta persetujuan oleh si Boru Heong.
Batu cucian yang masih ada sampai saat ini. Batu ini diyakini milik si Boru Heong. |
Dan secara diam-diam pula pada saat itu
Tuan Purba Sinaman telah meminta
sebagian Mahar sebagai bukti pertunangan, dan pada saat itu juga telah
ditentukan acara pelaksanaan pernikahan
antara Putri Tuan Sinaman dengan Putra Tuan samosir dengan Mahar Tujuh Peti
Emas dan Pakaian perlengkapan perkawinan kerajaan pada masa itu.
Hasil kesepakatan dan pertunangan antara
Putri Tuan Sinaman dan Putra Tuan samosir di Pantai tadi disampaikan Tuan
Sinaman kepada Putrinya di Kampung Pematang Sinaman. Tuan Sinaman berkata
kepada Putrinya “Anak ku aku telah menjodohkan mu dengan Putra Tuan Samosir,
ini Emas dan pakaian untuk kau pakai dalam acara pesta nanti,”kata Tuan Sinaman
kepada Putrinya Siboru Heong sambil menunjukan pakaian dan kepingan Emas yang
masih berada di peti.
Siboru Heongpun terkejut mendengar
perkataan bapaknya, Boru Heong berontak dan tidak terima adanya pertunangan
yang dilakukan orang tuanya kepada Putra Tuan Samosir. Si Boru Heong pun berkata,“Aku
Tidak mau kawin dengan orang yang tidak aku kenal,”kata Putri yang cantik nan
ayu itu. “Aku juga tidak mau meninggalkan huta Sinaman ini, aku mau Hidup dan
mati dikampung ini,”kata Putri Heong yang selalu mencintai kampung halamannya.
Mendengar Putrinya tidak setuju dan
protes atas pertunangan itu, Tuan Sinaman marah besar terhadap keputusan siboru
Heong Tuan Sinaman dengan nada keras mengatakan, “Bapak tidak mau tau, kau Boru
Heong harus tetap menikah dengan Putra Tuan samosir, Kerajaan Sinaman tidak mau
dicap jelek oleh raja-raja lain karena menolak pertunangan ini dan mengingkari
perjanjian, kalau pertunangan sudah aku terima, kamu putriku siboru Heong
haruslah menerima,” kata Tuan Sinaman sambil meninggalkan putrinya bersama
mahar emas dan perlengkapan pernikahan untuk dipakai Siboru Heong dalam pesta
perkawinanya.
Waktupun terus berjalan dan waktu
pernikahan telah ditentukan, Siboru Heong tidak dapat lagi lari dari kenyataan,
dan dia harus menuruti kemauan orang tuanya yaitu menikah dengan Putra Tuan
Samosir dari Pulau Samosir.
Siboru Heong bigung, dan tak tau mau
berbuat apa, mau tidak mau dia harus mengorbankan dirinya, dan rela menerima
pertunangan yang telah disepakati oleh orangtuanya, karena kalau pertunangan
tidak dilaksanakan, orang tuanya akan merasa malu, bahkan perpecahan
persahabatan orang tuanya kepada Tuan Samosir akan retak, dan bahkan bisa saja
akan terjadi perang antara kerajaan Sinaman dan kerajaan Samosir, karena telah
mempermalukan kerajaan.
Mau tidak mau persiapanpun dilaksanakan,
Siboru Heong mengalah, walaupun dirinya sebenarnya tidak menghendaki pertunagan
itu dan kawin dengan Putra Tuan Samosir, dirinya rela memakai pakaian
pengantin. Pada saat itu sebelum rombongan Tuan Sinaman meninggalkan kampong
halaman menuju Samosir melalui Tigaras, siboru Heong sempat mengatakan “ Kalau
kita jadi berangkat, jangan lupa batu untuk mencuci ku harus dibawa”,
mendenagar itu Tuan Sinaman langsung memerintahkan pengawalnya agar membungkus
dengan rapi batu cucian itu menujuSamosir.
Ketika semua persiapan pernikahan
dikumpul, rombongan tuan Sinaman berangkat dari huta Sinaman menuju Tepian Danau
Toba yang saat ini bernama Tigaras, untuk menemui rombongan Tuan Samosir dengan
jalan kaki, Namun sebelum sampai di Pantai Tigaras, mereka singgah di atas
Bukit di Sipintu Angin, dan rombongan
tuan Sinaman istrahat dan berhenti, sambil memandang keindahan Danau Toba diatas
perbukitan, dan seketika itu pula Putri Tuan Sinaman Si Boru Heong terkejut
melihat betapa luasnya Danau Toba. Dia mengira luasnya Danau Toba seperti
lautan yang siap menelan siapapun yang melintasinya, maklum pada saat itu masih
dipercayaa kekuatan dewa-dewa laut, yang setiap saat meminta korban
persembahan.
Itulah sebabnya Si Boru Heong Heran dan
bertanya dalam hatinya, “kenapa harus melewati laut?”katanya dalam hati. Kenapa
juga harus dengan anak Samosir, apakah tidak ada putra kerajaan lain, dan bukan
dari putra penguasa lautan ini?. Demikianlah pertanyaan siboru Heong dalam
hatinya karena melihat begitu luasnya Danau Toba itu. Seketika itu juga Si Boru
Heong protes kepada bapaknya Tuan Sinaman, Si Boru Heong berkata “ Saya tidak
mau dipersembahkan dan di korbankan kelaut itu (Danau Toba), biarlah aku
tinggal disini saja, jangan paksa aku. Kalau kalian paksa lebih baik aku mati,”
Kata Si Boru Heong kepada Tuan Sinaman dan rombongan dari Huta Sinaman.
Tuan Sinaman pun marah besar dan
mengatakan kepada Si Boru Heong “Kau harus kawin dengan putra Samosir, jangan
buat aku marah. Kau Si Boru Heong harus tahu ini kesepakatan raja-raja, tidak bisa
dibantah, akibatnya kita akan malu, kampung kita akan di cap jelek dan penipu.
Kerajaan Sinaman tidak akan mendapat
kepercayaan lagi oleh raja-raja Samosir. Jadi kau Siboru Heong tetap harus
menikah dengan Putra Raja samosir itu,”kata Tuan Sinaman marah.
Mendengar itu Si Boru Heong berdoa
kepada Tuhannya, dan mengatakan,” Kalau bapak (Tuan Sinaman) memaksa saya harus
kawin sama Putra Tuan Sinaman, lebih baik saya jadi batu di tempat ini,” sesudah mengucapkan itu
disekitar bukit itu datanglah angin dan hujan deras, bersamaan datangnya
petir rombongan itu menjadi batu, demikian juga rombongan Tuan Samosir ditepi
danau Toba juga menjadi batu.
Kisah Si Boru Heong ini dapat dilihat
nyata di perbukitan Huta Tigaras Tepatnya di Simpang Sipintu Angin Kecamatan
Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun, Letaknya sekitar 2 Kilometer dari SMA
Negeri 1 Sipintu Angin. Cerita rombongan kapal Tuan Samosir juga dapat dilihat
di Pantai Tigaras, ditempat itu terlihat jelas sebuah batu besar menyerupai
kapal (Solu), seolah kapal itu baru saja bersandar di tepian Danau Toba.
Terima Kasih buat Keluarga Besar Jabarmen Purba dan Mesli Boru Sitio atau biasa disebut Oppung Baggal di Huta Sinaman, demikian juga Bapak P. Simanjorang personil polisi Polsek Dolok Pardamean , Mariani Sitio atau Opung Lambok (80), yang membantu penulis memberikan informasi sejarah Si Boru Heong, Semoga cerita rakyat Simalungun ini dapat menginspirasi masyarakat Simalungun untuk menjadi Sejarah budaya dan pariwisata di Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Simalungun.**
Terima Kasih buat Keluarga Besar Jabarmen Purba dan Mesli Boru Sitio atau biasa disebut Oppung Baggal di Huta Sinaman, demikian juga Bapak P. Simanjorang personil polisi Polsek Dolok Pardamean , Mariani Sitio atau Opung Lambok (80), yang membantu penulis memberikan informasi sejarah Si Boru Heong, Semoga cerita rakyat Simalungun ini dapat menginspirasi masyarakat Simalungun untuk menjadi Sejarah budaya dan pariwisata di Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Simalungun.**
Tidak ada komentar